Untuk pemilik warung makan yang punya karyawan
Sekali duduk 90 menit, cara kerja warungmu pindah dari kepalamu ke 5 lembar yang ditempel di dinding. Kamu bukan lagi "buku panduan berjalan".

Kalau satu saja dari tiga itu kamu banget, halaman ini ditulis buat kamu.
Karyawan yang nelepon terus bukan karyawan yang bodoh. Dia nelepon karena pernah salah, dan waktu itu yang dia dengar cuma “kan udah dibilangin.” Dari situ dia belajar: nelepon itu aman, mutusin sendiri itu bahaya.
Masalahnya bukan di karyawan. Yang ada di kepalamu nggak pernah benar-benar sampai ke kepala mereka.
Satu kejujuran dulu, biar nggak salah beli: ini dibuat untuk warung yang karyawannya kamu tinggal, walau cuma beberapa jam. Kalau warungmu cuma kamu dan satu orang yang selalu barengan sepanjang hari, kemungkinan cuma tiga dari lima lembarnya yang kepakai.
Makin banyak karyawanmu, makin kepakai. Punya dua cabang malah paling kepakai, karena kamu memang nggak bisa berdiri di dua tempat sekaligus.
Isinya benar semua. Yang salah bentuknya.
“Selalu” itu bukan jam. Nggak ada waktu pasti yang mengingatkan, jadi aturannya hilang begitu warung ramai.
Rapi menurut siapa? Karyawanmu punya ukuran sendiri, dan menurut dia itu sudah rapi.
Kalau dilewatkan, nggak ada yang tahu. Aturan yang nggak meninggalkan jejak akan berhenti jalan diam-diam.
Kelamaan itu perasaan, bukan batas. Perasaan kokimu beda dari karyawan barumu, dan dua-duanya merasa sudah benar.
Dilanggar, nggak terjadi apa-apa. Aturan yang nggak ada kelanjutannya dibaca karyawan sebagai imbauan.
Tahun 2008, WHO menguji di delapan rumah sakit, termasuk rumah sakit desa di Tanzania: tim operasi diminta membaca satu ceklis dua menit sebelum dan sesudah operasi. Bukan alat baru. Cuma daftar.
Kalau dokter bedah saja butuh daftar, karyawan warungmu yang baru tiga minggu kerja, pas antrean jam makan siang, bukan cuma butuh. Dia berhak dikasih.
Karyawanmu nggak akan baca ebook. Tapi dia akan mencentang kertas yang nempel di depan matanya. Kamu pegang filenya di HP, mereka pegang kertasnya di dinding.
Enam poin waktu buka, enam poin waktu tutup, plus kolom nama dan jam. Sengaja pendek, karena ceklis kepanjangan cuma dicentang asal. Ditempel dekat pintu keluar.
Uang awal, uang akhir, selisih, stok menipis, sisa bahan. Ditandatangani dua orang. Kalau ada selisih, ketahuan malam itu juga, bukan akhir bulan.
Enam angka, satu lembar, satu foto ke WhatsApp-mu tiap tutup.
Lembar yang paling banyak memotong telepon. Dua belas keputusan warung yang paling sering muncul, dengan batas wewenang pakai angka Rupiah.
Kartu ini kosong, dan itu disengaja. Resep warungmu milikmu. Resep inti kamu simpan sendiri, yang ditempel cuma Kartu Porsi. Karyawan cukup tahu berapa centong.

Ini cuma bagian atas tiap lembar. Versi Word dan Canva bisa kamu edit: hapus atau ganti baris yang nggak cocok, lalu cetak.
Tiap malam kamu salin angka dari foto Laporan Harian, dua menit. Akhir bulan, sheet-nya menghitung sendiri:
| Total selisih kas sebulan | − Rp 412.000 |
| Berapa hari ada selisih | 11 dari 30 hari |
| Telepon di luar jam, minggu 1 | 6 kali / hari |
| Telepon di luar jam, minggu 4 | 2 kali / hari |
| Penjualan paling besar | hari Sabtu |
Angka di atas cuma contoh isian, bukan hasil warung tertentu.
“Bu, ayamnya habis, beli di mana?” · “Ada yang minta diskon, boleh nggak?” · “Pelanggan komplain rasa, gimana?”
Karyawanmu tahu caranya. Yang dia nggak tahu: sampai mana dia boleh mutusin sendiri tanpa disalahin besok. Semuanya pertanyaan soal izin.
Hitungannya jalan di HP-mu, nggak ada data yang terkirim ke mana pun.
Sehari kamu sakit dan nggak ada yang tahu harus mulai dari mana, angka itu hilang.
Tiap ada yang keluar, kamu ngajarin penggantinya dari nol lagi.
Warung Autopilot Rp 119.000, kurang dari satu jam omzet warungmu.

Lima aturan tadi dibedah satu per satu: apa persisnya yang harus ditambahin supaya berhenti jadi imbauan dan mulai jadi ceklis yang bisa ditagih.

Lima pos kerja, sudah tertulis penuh, bukan template kosong. Ada versi Word: coret yang nggak berlaku, tambahkan yang khas, lalu cetak.

Dua belas kalimat siap pakai untuk situasi paling canggung, plus cara mengenalkan sistem baru ke karyawan lama tanpa kedengaran “aku udah nggak percaya kamu”.
Tempat bertanya sesama pemilik warung yang memasang sistem yang sama, plus catatan mingguan soal bagian yang paling sering macet. Keluar kapan saja, akses lembarmu tetap jalan.
Harga normal Rp 718.000
Rp 119.000
Harga promo berakhir dalam
Link unduhan muncul langsung setelah bayar
Ini produk pertama kami untuk warung. Harganya dipilih supaya orang mau nyoba tanpa mikir lama, dan supaya kami cepat tahu bagian mana yang benar-benar kepakai di warung sungguhan.
Bisa. Karyawanmu nggak pegang aplikasi apa pun, cuma kertas di dinding dan pulpen. Hurufnya besar, kalimatnya pendek. Yang buka file cuma kamu.
Justru ini alasan terkuat buat pakai. Selama cara kerja warung cuma ada di kepala orang lama, tiap dia keluar kamu mulai dari nol lagi. Begitu tertulis, karyawan baru belajar dari lembarnya, bukan dari kamu.
Kepakai. Dari lima lembarnya, cuma Serah Terima Shift yang butuh pergantian shift. Empat lainnya jalan selama ada karyawan yang kamu tinggal. Daftar Keputusan malah paling kepakai waktu satu karyawan ditinggal sendirian.
Yang gratis dibuat untuk restoran yang punya manajer, dan bentuknya dokumen untuk kamu baca. Ini lembar untuk karyawan pegang. Dan nggak ada contoh gratis yang menulis batas wewenang: sampai angka berapa karyawan boleh mutusin sendiri.
PDF siap cetak A5, Word dan Canva yang bisa diedit, Excel untuk sheet rekap, dan JPG untuk grup WA karyawan. Link unduhan muncul langsung setelah bayar dan dikirim juga ke WhatsApp-mu.
Sekali bayar, akses selamanya. Nggak ada biaya bulanan. Boleh dicetak ulang sebanyak yang kamu mau untuk warungmu sendiri.
Tempel sekali, 90 menit di meja. Kalau dua minggu kemudian HP-mu masih bunyi lebih dari tiga kali sehari untuk hal yang sudah tertulis, uangmu kembali.
🛒 AMBIL WARUNG AUTOPILOT